NGASEM, 6 April 2026 – Sebuah insiden memilukan kembali mencoreng institusi pendidikan di wilayah Ngasem. Denis, seorang siswa kelas 8, dilaporkan menjadi korban dugaan kekerasan fisik yang dilakukan oleh oknum guru berinisial Pak H di lingkungan SMP 1 Ngasem. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami trauma mendalam dan terpaksa berpindah sekolah.
Peristiwa ini bermula saat jam pelajaran berlangsung. Berdasarkan penuturan korban, insiden dipicu oleh kejadian sederhana di luar kelas:
• Izin Mencuci Tangan: Denis telah meminta izin secara resmi kepada Pak H untuk mencuci tangan dan diizinkan.
• Candaan Teman: Saat di luar, seorang rekan siswa bernama Gilang menarik-narik baju Denis. Melihat hal tersebut, Pak H memerintahkan keduanya untuk segera masuk ke dalam ruang kelas.
• Tindakan Kekerasan: Sesampainya di dalam kelas 8H, di hadapan rekan-rekan sekelasnya, Pak H diduga melayangkan tamparan keras ke arah wajah/pipi Denis sebanyak tiga kali
Tindakan tersebut meninggalkan bekas luka psikis yang signifikan bagi Denis. Hingga rilis ini dikeluarkan, pihak keluarga menyatakan bahwa baik oknum guru yang bersangkutan maupun pihak manajemen SMP 1 Ngasem belum memberikan pernyataan maaf secara resmi atau menunjukkan itikad baik untuk menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan.
Kondisi lingkungan sekolah yang dirasa tidak lagi aman dan kondusif bagi kesehatan mentalnya memaksa Denis untuk meninggalkan SMP 1 Ngasem dan berpindah ke SMP 2 Ngasem. Keputusan ini diambil keluarga demi memulihkan semangat belajar dan rasa aman sang anak.
Keluarga korban, yang diwakili oleh Ibu Elvin, menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam atas perlakukan yang diterima putranya.
"Anak saya sudah izin baik-baik, namun tetap mendapatkan kekerasan fisik. Kami hanya menuntut keadilan dan pertanggungjawaban agar hal serupa tidak menimpa siswa lain di masa depan," tegas pihak keluarga dalam keterangannya.
Keluarga berencana membawa kasus ini ke jalur hukum dan meminta pihak Dinas Pendidikan serta lembaga perlindungan anak untuk segera mengusut tuntas kejadian ini. Keamanan siswa di sekolah harus menjadi prioritas utama, dan tindakan kekerasan dengan dalih kedisiplinan tidak dapat ditoleransi dalam dunia pendidikan modern.
0 Komentar