KEDIRI KOTA, kupasfakta.online – Jalan Stasiun Kota Kediri berubah menjadi ruang perjumpaan sosial yang hangat, Jumat (2/1/2026). Di tengah deretan lapak kuliner, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati duduk bersila bersama warga, menikmati pecel tumpang beralas pincuk daun pisang—sederhana, namun sarat makna ekonomi dan budaya.
Aksi makan bersama ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari strategi penguatan UMKM berbasis kearifan lokal. Sebanyak 20 lapak pecel tumpang dilibatkan, masing-masing menyediakan 100 porsi yang dinikmati masyarakat melalui sistem kupon. Antusiasme warga pun tumpah ruah, menjadikan acara ini hidup dan organik.
Wali Kota yang akrab disapa Mbak Nanda menegaskan, kegiatan tersebut selaras dengan visi Kediri City Tourism (D’CITO)—konsep pariwisata yang tidak hanya menjual visual, tetapi menghadirkan pengalaman langsung.
“Wisata itu bukan hanya dilihat, tapi dirasakan. Suasana hangat seperti ini yang ingin kami bangun,” ujar Vinanda.
Pecel Tumpang: Identitas, Bukan Sekadar Menu
Menurut Vinanda, pecel tumpang bukan hanya kuliner, melainkan identitas rasa Kota Kediri. Sambel tumpang dengan karakter kuat dan khas menjadi pembeda yang tidak dimiliki daerah lain.
“Ini simbol kecintaan pada kuliner lokal. Dengan diresmikannya Jalan Stasiun, kami berharap geliat pedagang pecel tumpang di Jalan Dhoho semakin hidup, semakin dikenal, dan naik kelas sebagai destinasi wisata kuliner,” ungkapnya.
Langkah ini dinilai sebagai pendekatan soft power ekonomi, di mana pemerintah hadir bukan di balik podium, melainkan di tengah rakyat—menyatu dalam aktivitas keseharian.
Ruang Publik sebagai Alat Pemberdayaan
Bagi pelaku UMKM, kehadiran wali kota memberi dampak psikologis dan ekonomi. Dwi Retnani, warga Kelurahan Dermo, mengaku senang bisa makan pecel bersama orang nomor satu di Kota Kediri.
“Jarang ada acara seperti ini. Dampaknya bukan hanya ke penjualan, tapi kebersamaan antar pedagang. Ini mempersatukan penjual pecel di Jalan Dhoho agar terus mendukung UMKM secara berkelanjutan,” katanya.
Ketika Kuliner Menjadi Bahasa Kebijakan
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pembangunan UMKM tidak selalu harus dimulai dari rapat panjang dan baliho besar. Kadang, cukup dengan sepiring pecel tumpang, pemerintah bisa menyampaikan pesan keberpihakan, membangun kepercayaan, dan menyalakan optimisme ekonomi rakyat.
Di Kota Kediri, pecel tumpang hari itu bukan hanya dimakan—tetapi dirayakan sebagai bahasa kebijakan yang membumi.

0 Komentar