Jakarta, kupasfakta.online  — Amerika Serikat resmi mulai menjual minyak mentah Venezuela dengan nilai fantastis. Penjualan perdana tersebut mencapai US$500 juta atau sekitar Rp8,45 triliun, menandai babak baru eksploitasi cadangan energi negara Amerika Latin yang tengah dilanda krisis politik dan konflik.

Informasi ini diungkapkan langsung oleh seorang pejabat pemerintahan Amerika Serikat kepada CNN, yang menyebutkan bahwa penjualan minyak Venezuela kemungkinan akan terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Meski demikian, detail teknis terkait transaksi perdana ini masih belum dipublikasikan secara rinci.

Gedung Putih: Trump Siapkan Investasi Jumbo

Juru Bicara Gedung Putih, Taylor Rogers, menyatakan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump tengah memfasilitasi pembicaraan intensif dengan perusahaan-perusahaan minyak yang siap melakukan investasi besar-besaran di Venezuela.

“Tim Presiden Trump sedang memfasilitasi diskusi positif yang berkelanjutan dengan perusahaan minyak yang bersedia melakukan investasi belum pernah terjadi sebelumnya untuk memulihkan infrastruktur minyak Venezuela,” ujar Rogers.

Langkah ini mempertegas ambisi Washington untuk memanfaatkan cadangan minyak Venezuela yang dikenal sebagai yang terbesar di dunia.

Minyak Venezuela Dijual Diskon

Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa minyak mentah Venezuela ditawarkan ke pasar global dengan harga diskon. Harga minyak Venezuela disebut jauh lebih murah dibandingkan minyak dari negara pesaing, termasuk Kanada, demi menarik minat para pedagang internasional.

Strategi banting harga ini dinilai sebagai upaya cepat untuk mengalirkan keuntungan ekonomi sekaligus menguasai pasar energi global.

Trump: AS Akan Kuasai Energi Venezuela

Sejak operasi agresif AS terhadap Venezuela dan penculikan Presiden Nicolás Maduro di awal bulan ini, Trump secara terbuka menyatakan niatnya untuk memanfaatkan cadangan minyak raksasa negara tersebut.

Pada Jumat lalu, Trump bahkan mengklaim industri minyak AS akan mengucurkan investasi sedikitnya US$100 miliar atau sekitar Rp1.689 triliun untuk membangun kembali sektor energi Venezuela. Namun, hingga kini asal-usul dan realisasi angka tersebut masih dipertanyakan.

Bos Migas AS Skeptis

Ambisi besar Trump ternyata tidak sepenuhnya disambut hangat oleh raksasa energi Amerika Serikat. CEO ExxonMobil, Darren Woods, secara terang-terangan menyatakan keraguannya saat bertemu pejabat Gedung Putih.

“Ini tidak layak investasi,” kata Woods.
“Ada banyak kerangka hukum dan komersial yang belum jelas untuk memastikan keuntungan dari investasi di Venezuela,” tambahnya.

Sejumlah eksekutif perusahaan energi lainnya juga menyatakan keengganan untuk terlibat dalam bisnis di Venezuela yang dinilai masih sarat konflik dan ketidakpastian hukum.

Usai pertemuan panjang tersebut, Trump dan jajaran pembantunya meninggalkan Gedung Putih tanpa komitmen investasi konkret dari perusahaan-perusahaan migas besar.

Venezuela: Raja Minyak Dunia

Venezuela memang bukan negara sembarangan di sektor energi. Berdasarkan data Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai 303 miliar barel atau sekitar 17 persen dari cadangan global.

Angka ini melampaui cadangan negara-negara Timur Tengah seperti:

  • Arab Saudi: 267 miliar barel

  • Iran: 209 miliar barel

  • Irak: 145 miliar barel

Sebagai salah satu pendiri OPEC, Venezuela sejak lama menjadi kunci geopolitik energi global.

Energi, Uang, dan Geopolitik

Penjualan minyak Venezuela oleh Amerika Serikat senilai triliunan rupiah ini mempertegas satu hal: energi bukan sekadar komoditas, melainkan senjata geopolitik. Di tengah konflik, sanksi, dan perebutan pengaruh global, minyak Venezuela kini menjadi ladang emas yang diperebutkan kekuatan besar dunia.

Pertanyaannya, siapa yang akan paling diuntungkan—rakyat Venezuela, atau para pemain besar di balik layar kekuasaan global?