Jakarta,  kupasfakta.online  – Insiden terbaliknya rakit darurat yang ditumpangi Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah Dek Fadh saat meninjau lokasi banjir di Aceh Tengah menyedot perhatian publik dan memantik diskusi luas di media sosial. Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan lapangan, melainkan potret telanjang tentang betapa rentannya infrastruktur darurat di wilayah bencana.

Rakit sederhana berbahan kayu dan drum yang ditarik dengan tali sling itu digunakan karena akses darat menuju kawasan Pameu terputus akibat banjir dan longsor. Di tengah penyeberangan sungai, rakit kehilangan keseimbangan dan terbalik. Wagub Aceh bersama rombongan tercebur ke sungai dan sempat memicu kepanikan warga di sekitar lokasi yang langsung melakukan upaya penyelamatan.

Kepala Biro Administrasi Pimpinan Sekretariat Daerah Aceh Akkar Arafat memastikan seluruh rombongan berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat tanpa korban jiwa. Insiden tersebut terjadi saat Dek Fadh menjalankan kunjungan kerja untuk meninjau langsung kondisi masyarakat terdampak banjir sebagai bagian dari tanggung jawab negara terhadap warganya.

Peristiwa ini segera viral dan menuai beragam reaksi. Di satu sisi, publik mengapresiasi keberanian pejabat daerah yang turun langsung ke lokasi bencana dengan segala risiko. Di sisi lain, muncul kritik tajam terkait kesiapan sarana keselamatan dan standar mitigasi dalam kunjungan resmi ke wilayah rawan.

Terbaliknya rakit darurat yang membawa pejabat nomor dua di Aceh ini menjadi alarm keras bahwa persoalan bencana tidak berhenti pada banjir dan longsor semata. Akses darurat yang rapuh, fasilitas seadanya, dan minimnya standar keselamatan justru dapat memperbesar risiko baru di tengah upaya kemanusiaan.

Insiden ini kini ramai dibicarakan sebagai simbol ironi. Negara hadir di lokasi bencana, tetapi jalur menuju rakyat masih bergantung pada rakit darurat yang mudah tumbang. Sebuah pelajaran mahal bahwa penanganan bencana menuntut lebih dari sekadar kehadiran, melainkan kesiapan sistem yang kokoh dari hulu ke hilir.