Kediri,  penanuswantara.online – Sebuah monumen macan putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, mendadak menjadi bintang baru di jagat media sosial. Bukan karena kegagahannya, melainkan karena bentuknya yang dianggap “tidak biasa”—bahkan oleh warganya sendiri.

Patung tersebut viral lantaran dinilai lucu, menggemaskan, dan jauh dari citra buas seekor macan. Sebagian warganet menyebutnya mirip kudanil, zebra, hingga kapibara, sementara lainnya mengaitkannya dengan maskot Persik Kediri, klub sepak bola kebanggaan warga Kota Tahu.

Namun di balik gelak tawa dan kamera ponsel yang terus menyala, patung itu sejatinya menyimpan makna kultural dan spiritual yang dalam.

Bukan Maskot Bola, Tapi Penjaga Desa

Sekretaris Desa Balongjeruk, Ardan Setiadi, meluruskan persepsi publik. Ia menegaskan bahwa patung macan putih tersebut bukan representasi Persik Kediri, melainkan simbol danyang desa—penjaga wilayah dalam kepercayaan masyarakat setempat.

“Macan putih itu berasal dari cerita para sesepuh desa. Konon dianggap sebagai penjaga Desa Balongjeruk,” ujar Ardan.

Menurut cerita turun-temurun, sosok macan putih diyakini sebagai hewan peliharaan leluhur yang pertama membuka (babat) desa. Dalam narasi lokal, macan ini dipercaya berkeliling di batas-batas desa, menjaga Balongjeruk dari marabahaya yang tak kasatmata.

Meski demikian, Ardan menegaskan bahwa kepercayaan tersebut tetap diletakkan dalam bingkai religius.

“Perlu digarisbawahi, itu cerita orang tua dulu. Sebaik-baiknya pelindung tetaplah Allah,” tegasnya.

Punden, Randu, dan Cerita yang Bertahan

Kepercayaan tentang macan putih ini kerap dikaitkan dengan Punden Dusun Balongjeruk, sebuah area yang ditandai segerombol pohon randu di tengah persawahan. Warga menyebut, di tempat itulah sosok macan putih kerap “menampakkan diri”.

Cerita ini hidup dari mulut ke mulut, bertahan di tengah arus modernisasi, dan kini—secara tak terduga—naik kelas menjadi konsumsi nasional lewat media sosial.

Dari Situs Sakral ke Spot Swafoto

Sejak viral, monumen ini ramai dikunjungi. Warga lokal hingga luar daerah berdatangan, bukan untuk ritual, melainkan berswafoto. Patung yang awalnya simbol penjaga desa kini menjelma menjadi ikon hiburan digital.

Fenomena ini memperlihatkan paradoks menarik:
di satu sisi, warisan mitos lokal tetap hidup, di sisi lain, ia harus berdamai dengan budaya meme dan humor generasi internet.

Macan putih Balongjeruk mungkin tak mengaum, tapi kehadirannya sukses mengundang perhatian. Ia berdiri di persimpangan antara tradisi dan viralitas, antara sakral dan jenaka.

Dan mungkin, justru di situlah kekuatannya:
menjaga desa, sambil menghibur dunia maya.