Kediri,  kupasfakta.online – Tongkat estafet kepemimpinan Fakultas Hukum Universitas Islam Kadiri Uniska berjalan dalam jalur intelektual yang kuat dan berkesinambungan. Setelah Dr Hj Emi Puasa Handayani SH MH mengemban amanah sebagai Dekan Fakultas Hukum Uniska selama dua periode, kepemimpinan kini dilanjutkan oleh Dr Zainal Arifin SS SH MPdI MH. Pergantian ini bukan sekadar rotasi jabatan akademik, melainkan simbol kesinambungan gagasan, nilai, dan dedikasi pada dunia pendidikan hukum.

Bagi Emi dan Zainal, pendidikan bukan sekadar gelar, tetapi cara hidup. Dengan mengajar, meneliti, dan terus belajar, manusia dipaksa untuk berpikir. Emi kerap mengutip pemikiran filsuf Prancis Rene Descartes, Aku berpikir maka aku ada, sebagai prinsip yang menuntunnya tetap aktif sebagai dosen, advokat, dan penggerak organisasi.

Di balik keteguhan intelektual Emi, berdiri sosok ibu yang menjadi fondasi nilai hidupnya, Hj Supiyani. Perempuan asal Kota Kediri yang kini berusia 73 tahun itu menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan pendidikan formal tidak pernah membatasi cita-cita. Meski tidak menamatkan SMP dan sang suami almarhum H Slamet hanya lulusan SMP, pasangan ini justru melahirkan generasi dengan pendidikan tinggi dan karier gemilang.

Hj Supiyani menanamkan satu prinsip sederhana namun keras, pendidikan adalah jalan menaikkan derajat hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Anak-anaknya tidak diberi pilihan untuk bermalas-malasan. Semua harus sekolah tinggi dan bekerja. Prinsip itu dijalani dengan disiplin, bukan sekadar nasihat kosong.

Hasilnya nyata. Anak sulung H Didik Hermawanto meraih gelar Sarjana Hukum dan kini bertugas sebagai Humas di Polres Kediri Kota. Anak kedua H Joni Widodo menapaki karier panjang di Kepolisian hingga berpangkat Kombes Pol dan kini menjalani penugasan pendidikan strategis di lingkungan Korlantas Polri. Anak ketiga Dr Hj Emi Puasa Handayani dikenal sebagai advokat andal, akademisi, mantan Dekan Fakultas Hukum Uniska, serta pengurus FKUB Kota Kediri. Anak bungsu Hj Eni Lestari SE SH juga berkiprah sebagai advokat sekaligus wirausahawan, mewarisi semangat dagang sang ibu yang dahulu berjualan di Pasar Ngaglik demi menyekolahkan anak-anaknya.

Bagi Emi, kedekatan dengan ibunya tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga intelektual. Ia memilih tetap aktif mengajar dan belajar agar semangat menuntut ilmu ibunya terus hidup dalam dirinya. Setiap undangan akademik dan kegiatan formal kerap ia jalani bersama sang ibu. Saat melihat ibunya tersenyum, Emi merasa Allah SWT sedang tersenyum kepadanya.

Spirit pendidikan itu pula yang mengantarkan Emi dan suaminya, Zainal Arifin, menuntaskan pendidikan doktoral secara bersamaan di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Sebuah capaian yang tidak hanya mencerminkan kecerdasan, tetapi juga konsistensi nilai keluarga yang diwariskan sejak kecil.

Di tengah derasnya arus pragmatisme dan budaya instan, kisah keluarga Hj Supiyani menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang membentuk karakter, peradaban, dan kepemimpinan. Dari pasar tradisional hingga ruang akademik tertinggi, mereka membuktikan bahwa berpikir adalah bentuk paling nyata dari keberadaan manusia.