KEDIRI,  kupasfakta.online  – Setelah melewati masa rehabilitasi dan sorotan publik, proyek perbaikan pilar Jembatan Brawijaya Kediri resmi dinyatakan selesai, Senin (29/12/2025). Jembatan ikonik Kota Kediri itu kini kembali dibuka dan sudah dapat dinikmati masyarakat mulai malam hari, dengan wajah baru yang lebih artistik, filosofis, dan sarat makna sejarah.

Proyek yang dimulai sejak 23 September 2025 tersebut tidak hanya memulihkan struktur pilar yang sempat rusak akibat kebakaran, tetapi juga menghadirkan penyegaran visual monumental berupa ornamen aksara Jawa Kuadrat dan dominasi nuansa keemasan, lengkap dengan tata cahaya artistik yang memperkuat kesan megah di malam hari.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kediri, Endang Kartika Sari, memastikan seluruh pekerjaan utama telah rampung. Saat ini, kontraktor tinggal menyelesaikan tahap akhir berupa pembersihan area proyek.

“Semua ukiran akrilik, lampu-lampu, dan sirap sudah terpasang. Hari ini tinggal finishing pembersihan. Scaffolding di median jalan juga sudah dibongkar tadi malam,” ujar Endang.

Finishing Akhir, Pilar Siap Dibuka Total

Meski hingga siang hari masih terlihat scaffolding di beberapa pilar, Endang menegaskan hal itu hanya bersifat sementara dan ditargetkan selesai hari ini.

“Hari ini ditargetkan seluruh scaffolding di pilar-pilar dibongkar,” tegasnya.

Dengan rampungnya tahap ini, Jembatan Brawijaya dipastikan kembali berfungsi penuh tanpa gangguan pekerjaan fisik.

Aksara Kuadrat dan Warna Emas: Bahasa Visual Kejayaan Kediri

Yang membedakan rehabilitasi kali ini bukan sekadar perbaikan teknis, melainkan narasi besar yang dihadirkan melalui desain. Ornamen aksara Jawa Kuadrat, aksara kuno yang berasal dari masa Kerajaan Kediri, dipilih sebagai elemen utama visual pilar jembatan.

Tak hanya itu, warna keemasan mendominasi desain sebagai simbol kejayaan.

“Ini melambangkan bahwa Kediri di masa lalu pernah mencapai puncak kejayaan, dan diharapkan di masa kini serta masa depan juga berada dalam masa keemasan,” terang Endang.

Kalimat-kalimat pemersatu bangsa seperti “Bhineka Tunggal Ika” serta semboyan Kota Kediri “Djojo ing Bojo” diukir dalam aksara kuadrat, menjadikan jembatan ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan ruang narasi sejarah dan identitas kota.

Dari Tragedi ke Ikon Baru Kota

Sebagaimana diketahui, pilar Jembatan Brawijaya sisi barat sempat terbakar pada 10 Juni 2024. Peristiwa tersebut menjadi titik balik bagi Pemerintah Kota Kediri untuk tidak hanya melakukan perbaikan, tetapi juga merehabilitasi seluruh pilar jembatan secara menyeluruh.

Pemkot Kediri menggelontorkan anggaran hingga Rp 3,8 miliar untuk proyek ini, dengan target kontrak semula berakhir pada 16 Desember 2025, sebelum akhirnya diberikan waktu penyelesaian hingga akhir Desember.

Langkah ini dinilai sebagai upaya strategis memperkuat citra Jembatan Brawijaya sebagai landmark kota, sekaligus menambah daya tarik visual dan nilai historis pada jembatan yang pertama kali diresmikan pada 2019 tersebut.

Kini, Jembatan Brawijaya tidak lagi sekadar penghubung lalu lintas, melainkan monumen modern yang berbicara tentang sejarah, kejayaan, dan masa depan Kota Kediri—menyala kembali, lebih bermakna, dan siap menjadi pusat perhatian publik, baik di dunia nyata maupun media sosial.