Jakarta, kupasfakta.online  – Hubungan diplomatik China dan Jepang kembali memanas setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang menyinggung kemungkinan keterlibatan militer Jepang jika China melancarkan serangan terhadap Taiwan. Pernyataan tersebut memicu respons keras Beijing, yang membalas dengan tekanan ekonomi, boikot budaya, hingga retorika diplomatik yang tajam.

Situasi ini menimbulkan keprihatinan luas di kalangan pelaku usaha dan analis pasar. Efeknya sudah menjalar ke berbagai sektor, menekan kinerja ekonomi dua negara besar Asia Timur tersebut.

Berikut lima dampak besar yang muncul akibat memuncaknya ketegangan China–Jepang:

1. 500.000 Turis China Membatalkan Kunjungan ke Jepang

Sektor pariwisata menjadi korban paling awal. China—sebagai salah satu penyumbang turis terbesar bagi Jepang—memberikan imbauan keras agar warga negaranya menunda perjalanan ke Negeri Sakura. Dalam rentang waktu 15–17 November saja, sebanyak 500.000 penerbangan menuju Jepang dibatalkan.

Tujuh maskapai China, termasuk tiga maskapai pelat merah, menawarkan refund penuh dan pembatalan gratis. Agen perjalanan juga menghentikan pemrosesan visa individu ke Jepang, memicu kekhawatiran baru bagi pemulihan sektor wisata Jepang pascapandemi.

2. Saham Sektor Pariwisata & Ritel di Jepang Anjlok

Efek pembatalan turis langsung menghantam pasar modal Tokyo. Saham perusahaan ritel, maskapai, dan sektor perjalanan mengalami penurunan signifikan. Investor khawatir boikot wisatawan China akan mengurangi pendapatan perusahaan secara drastis.

Ketua Keidanren, Yoshinobu Tsutsui, menegaskan bahwa stabilitas politik menjadi kunci keberlanjutan hubungan ekonomi kedua negara. Ketegangan ini terbukti mengganggu sentimen pasar secara lebih luas.

3. Retorika "Potong Leher" Picu Krisis Diplomatik

Situasi makin memanas setelah komentar PM Takaichi yang menyebut serangan ke Taiwan dapat menjadi alasan Jepang terlibat dalam pertahanan kolektif. Beijing meradang.

Seorang diplomat senior China di Osaka bahkan sempat mengunggah komentar bernada ekstrem, menyebut pihak yang menentang kebijakan China agar “memotong leher sendiri”. Walau telah dihapus, pernyataan itu menambah ketegangan dan memaksa kedua negara saling memanggil duta besar mereka.

Tokyo akhirnya mengirim diplomat tinggi ke Beijing untuk meredakan situasi.

4. Pertukaran Budaya & Penayangan Film Jepang Dibekukan

Selain ekonomi, China juga menggunakan kekuatan budaya sebagai bentuk tekanan. Distributor film di China menunda penayangan film Jepang tanpa batas waktu. Film-film Jepang yang sudah tayang pun mengalami penurunan tajam penjualan tiket.

Beberapa agenda pertukaran budaya lokal antara China dan Jepang juga dibatalkan. Media pemerintah China ramai-ramai mengangkat narasi nasionalis, memperkuat boikot terhadap produk dan konten budaya Jepang.

5. Ancaman Jangka Panjang bagi Rantai Pasokan & Perdagangan Asia Timur

Pengamat memperingatkan bahwa krisis ini berpotensi merembet ke struktur ekonomi Asia Timur. China dan Jepang memiliki hubungan perdagangan yang sangat terintegrasi, terutama dalam rantai pasok teknologi, otomotif, dan manufaktur.

Takakage Fujita, Sekjen organisasi masyarakat sipil yang fokus pada rekonsiliasi sejarah Jepang, mengecam pernyataan Takaichi sebagai tindakan ceroboh yang dapat merusak hubungan ekonomi strategis kedua negara. Ia menilai peran China dalam ekonomi Asia Timur akan semakin dominan, sehingga Jepang tidak boleh mempertaruhkan hubungan bilateral tersebut.Ketegangan antara dua kekuatan ekonomi Asia ini menunjukkan bagaimana dinamika geopolitik dapat menimbulkan guncangan besar terhadap stabilitas regional. Jika tidak segera mereda, dampaknya bisa meluas ke perdagangan, investasi, hingga rantai pasokan global.(red.al)